RSS

AKU

30 Jul

 

Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang pun merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa ku bawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mahu hidup seribu tahun lagi
-Chairil Anwar, Maret 1943
 

Chairil Anwar, penyair Indonesia yang misterius. Hidupnya penuh kisah duka. Penceraian ibu bapa, kematian nenek yang disayangi, hidup bergelandangan di lorong-lorong kota, bergelumang dengan pelacur dan penagih dadah. Akhirnya meninggal pada usia yang cukup muda – 27 tahun akibat sifilis.

Tapi, puisi-puisinya tetap hidup. Semua pelajar sekolah di Indonesia wajib tahu puisinya. Dia menjadi inspirasi untuk pejuang kemerdekaan bangsanya. Hari dia meninggal diingati sebagai “Hari Chairil Anwar”. Dia kebanggaan mereka. Dia legenda dunia sastera Indonesia.

Dia hidup tidak lama. Cuma selama 27 tahun. Tapi sudah meninggalkan nama yang akan kekal sampai bila-bila.

Saya pula bagaimana? Berapa tahunkah lagi baki hidup saya di dunia? Apa yang mahu saya tinggalkan?…~haih…

Tiba-tiba ada suara halus menegur “Jangan fikir apa yang mahu kau tinggalkan di dunia. Fikir apa yang mahu kau bawa ke akhirat sana!”.

Ouh, insaf sebentar…huhu.

 
Leave a comment

Posted by on July 30, 2008 in Manusia, puisi, Refleksi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: